Senin, 13 Februari 2012

aliran Asy'ariyah

ALIRAN ASY’ARIYAH
Membicarakan aliran teologi Asy’ariyah tidak mungkin terlepas dari pembicaraan golongan terbesar umat islam, yang terkenal dengan sebutan Ahl al- Sunnah Wal al- Jama’ah. Dalam pengertian umum berarti golongan yang bertentangan atau berseberangan dengan golongan Syi’ah, sehingga Mu’tazilah, Asy’ariyah dan maturidiyah tercakup ke dalamnya. Dan dalam pengertian yang khusus, serta itulah yang dimaksud dalam pembahasan ini, ialah Aliran Asy’ariyah yang dipelopori oleh Abu al-Hasan al- Asy’ari.
Kata al- Sunnah mengandung dua makna; pertama, berarti thariqah atau cara, yaitu cara yang ditempuh para sahabat dalam menerima ayat – ayat mutasyabihat, dengan menyerahkan sepenuhnya maksud ayat- ayat itu kepada ilmu Allah tanpa berusaha menakwilkannya. Kedua, berarti al- Hadist, sehingga yang dimaksud ialah mereka percaya dan menerima hadist shahih tanpa menggali maksudnya secara mendalam seperti yang dilakukan Mu’tazilah. Abu al- Muzaffar al- Isfaraini menukilkan “ bahwa keistimewaan Ahl al- Sunnah ialah: Mengambil sumber berita hanya dari Rasul dan para sahabat.
Ditambahkan kata al- Jama’ah di belakang kata Sunnah ialah karena mereka selalu menyandarkan pendapat atau berdalil dengan Kitab Allah, Sunnah Rasulullah, Ijma’ dan Qiyas

Lahirnya Aliran Asy’ariyah
Aliran Asy’ariyah sendiri lahir tidak terlepas dari’ atau malah dipicu oleh situasi sosial politik yang berkembang waktu itu. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Pada masa pemerintahan Khalifah Al- Makmun, serangan Mu’tazilah terhadap para fuqaha’ dan muhadditsin semakin gencar. Tak seorang pun para pakar fiqh yang populer dan pakar hadis yang masyhur luput dari genpuran mereka. Serangan dalam bentuk pemikiran, disertai dengan penyiksaan fisik oleh penguasa dalam  bentuk suasana al- mihnah [inkuisisi]. Akibatnya timbul kebencian masyarakat terhadap mu’tazilah, dan berkembang menjadi permusuhan.
Keadaan berbalik setelah Al- Mutawakkil naik menduduki tahta kekhalifahan. Beliau sebagai khalifah menjauhkan pengaruh Mu’tazilah dari pemerintahan. Sebaliknya dia mendekati lawan- lawan mereka, dan membebaskan para ulama yang dipenjarakan oleh khalifah terdahulu. Para fuqaha’ yang beraliran sunni, serta orang- orang yang menerapkan m etode sunni dalam pengkajian akidah menggantikan kedudukan mereka.
Pada akhir abad ke 3 Hijriah muncul dua tokoh yang menonjol, yaitu Abu al- Hasan al- Asy’ari di Basrah dan Abu Mansyur al –Maturidi di Samarkand. Keduanya bersatu dalam melakukan bantahan terhadap Mu’tazilah, kendati pun di antara mereka terdapat pula perbedaan. Selanjutnya, yang akan dibicarakan hanyalah mengenai al- Asy’ari yang merupakan tokoh sentral dan pendiri aliran Asy’ariyah.
Al- Asy’ari yang nama lengkapnya Abu al- Hasan ‘Ali Ibnu Ismail Ibnu Abi Basyar, Ishak Ibnu Salam Ibnu Ismail Abdillah Ibnu Musa Ibnu Bilal Ibnu Abi Bardah, Amir Ibnu Abi Musa al- Asy’ari dilahirkan da Bashrah pada tahun 260 H dan wafat pada tahun 330 H. Ia merupakan keturunan salah seorang dari sahabat Rasulullah yang termasyhur, yaitu Abu Musa al- Asy’ari, ia juga termasuk seorang ahli hukum [faqih] yang masyhur.
Al- Asy’ari adalah murid dan belajar ilmu kalam dari seorang tokoh Mu’tazilah, yaitu Abu ‘Ali al Jubbai, malah ibnu ‘Asakir mengatakan bahwa al- Asy’ari belajar dan terus bersama gurunya itu, selama 40 tahun, sehingga al- Asy’ari pun termasuk tokoh Mu’tazilah. Dan karena kepintaran serta kemahirannya, ia sering mewakili gurunya itu dalam berdiskusi.
Lalu, mengapa al- Asy’ari  meninggalkan gurunya dan paham Mu’tazilah, serta membentuk paham dan mazhab baru? Ada beberapa riwayat yang menceritakan hal tersebut antara lain:
Ibnu ‘Asakir menceritakan bahwa pada suatu malam al- Asy’ari  bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad Saw, lalu Nabi menyuruhnya meninggalkan paham Mu’tazilah, dan supaya ia membela sunnahnya. Awal peristiwa ini, bermula ketika al- Asy’ari bertanya kepada gurunya waktu belajar. Jawaban sang guru tidak memuaskan al- Asy’ari, sehingga ia menjadi ragu- ragu dan ingin mencari kepuasan.
Al- Asy’ari sendiri menceritakan, “Pada suatu malam timbul keragu- raguanku tentang aqidah yang aku anut, lalu aku berdiri dan salat dua rakaat. Kemudian aku berdoa kepada Allah, supaya diberi- Nya petunjuk ke jalan yang tepat. Lantas aku tidur. Tiba- tiba aku melihat Rasulullah Saw dalam mimpiku. Maka aku adukan halku kepada beliau, dan Rasulullah bersabda, “Tetaplah engkau pada sunahku”. Setelah aku bangun, aku cob a bandingkan masalah- masalah teologi [kalam] dengan apa yang terdapat dalam Alquran dan al- Sunnah. Maka aku berketetapan hati memilih bimbingan yang terdapat  pada kedua sumber itu dan aku tinggalkan apa yang selama ini aku anut.
Al- Subki dan ibnu Khalkan menukilkan bahwa, pada suatu hari jumat di Basrah ia naik mimbar dan berkata, “Barang siapa yang telah mengenalku, maka sebenarnya dia telah mengenalku. Dan barang siapa yang belum mengenalku, maka kini saya memperkenalkan diri. Saya adalah fulan ibnu fulan. Saya pernah mengatakan bahwa Alquran adalah mahluk, bahwa Allah tidak terlihat oleh indra penglihatan kelak pada hari kiamat, dan bahwa perbuatan- perbuatan saya yang tidak baik, saya sendirilah yang melakukannya. Kini saya bertobat dari pendapat seperti itu, serta siap sedia untuk menolak pendapat Mu’tazilah, dan mengungkap kelemahan mereka. Menurut pendapat saya, dalil- dalil kedua kelompok itu seimbang. Tidak satu pun dalil yang lebih unggul atas dalil yang lain. Kemudian saya memohon petunjuk kepada Allah, maka Allah memberikan petunjuk kepada saya untuk meyakiniapa yang tertera dalam kitab- kitab saya. Kemudian al- Asy’ari menyerahkan kepada hadirin kitab yang ditulisnya bedasarkan metode kelompok fuqoha’ dan para ahli hadis.
Sebenarnya kebanyakan Mu’tazilah dan Qadariyah bertaklid kepada pemimpin dan pendahulu mereka. Mereka mentakwilkan Alquran berdasarkan pendapat para pendahulu, mereka tidak mengutip hadis Rasulullah, maupun pernyataan ulama’ salaf. Mereka menentang riwayat sahabat tentang riwayat sahabat tentang riwayat melihat Allah dengan indra penglihatan kelak pada hari kiamat. Padahal ada sejumlah hadis dari sanad yang berlainan dan mutawatir mengenai masalah itu.
Mereka juga mengingkari siksa kubur dan masalah- masalah orang- orang kafir yang disiksa didalam kubur. Padahal persoalan itu disepakati oleh para sahabat dan tabi’in. Pendapat mereka bahwa alquran adalah mahluk, sesungguhnya dekat dengan pendapat orang musyrik yang mengatakan alquran itu tidak lain hanyalah perkataan manusia [Muhammad]. Mereka juga menetapkan dan meyakini bahwa hamba [manusia] menciptakan kejahatannya, suatu penetapan yang serupa dengan pendapat Majusi yang menetapkan adanya dua pencipta, yaitu pencipta kebaikan dan kejahatan.
Al-Asy’ari adalah pendiri suatu mazhab yang dikenal dengan nama Asy’ariyah dan Asya’irah. Beliau menyusun satu mazhab yang imulai dengan membicarakan tentang Allah, sifat- sifat- Nya, huduts al- alam, problematika sifat- sifat pada umumnya dan masalah al- Kasb yang menjadi “ciri” khas al- Asy’ari.
Pendapat- pendapat Asy’ari dapat ditemui dalam kitab-kitab beliau; al- Ibanah ‘an Ushul al- Diyanah, al- Luma’ fi al-Radd ‘ala Ahlal- Zaig waal- Bida’, Istihsan al- Haudh fi ‘Ilm al- Kalam, dan Maqalat al- Islamiyyin wa Ikhtilaf al- Mushallin. Kitab- kitab Asy’ari tersebut berisi penolakan- penolakan terhadap pendapat [pemikiran] lawan- lawannya, terutama Mu’tazilah.
Al-Asy’ari seperti yang diceritakan al- Syahrastani memberikan sifat khas bagi Tuhan yang Esa itu dengan ungkapan al- qudrah ‘ala al- ikhtira’, kemampuan mencipta’ dan tidak ada yang turut berserikat dengan- Nya dalam hal itu. Siapa yang menganggap adanya partisipasi, berarti ia telah menduakan Tuhan, atau syirik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar