MAKALAH
(Filsafat Pendidikan Islam)
Pengertian, Ruang Lingkup, Kegunaan, Metode Pengembangan Dan Ulasan Perkembangan Pendidikan Islam Pada Abad Pertengahan.
(Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam.)
Dosen Pengampui: Dr. H. Sofyan M Sholeh. M.ag
DISUSUN OLEH:
HABIBI ANTONIUS (1111020031)
IAIN RADEN INTAN LAMPUNG
FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN PBA
TAHUN 2011
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan taufiq, hidayah, dan ma’una Nya kepada kami sehingga dengan bekal kemampuan yang ada pada kami, kami dapat menyelesaikan makalah mengenai Pengertian, Ruang Lingkup, Kegunaan, Metode Pengembangan Dan Ulasan Perkembangan Pendidikan Islam Pada Abad Pertengahan.
Makalah ini kami suguhkan kepada semua pembaca yang ingin mengetahui tentang filsafat pendidikan islam. Paling tidak makalah ini akan menjadi ilmu baru bagi para pembaca. Walaupun makalah ini belum sempurna tapi kami akan berusaha memperbaikinya pada makalah yang akan datang. Semoga saja makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin ..
Kepada Allah kami bermohon semoga tetaplah tercurahkan ‘inayat-Nya dan memberikan taufiq-Nya kepada kami dan para pembaca.
Bandar Lampung, 14 April 2012
Penyusun..
BAB I
PENDAHULUAN
Setiap orang memiliki filsafat walaupun ia mungkin tidak sadar akan hal tersebut. Kita semua mempunyai ide-ide tentang benda-benda, tentang sejarah, arti kehidupan, mati, Tuhan, benar atau salah, keindahan atau kejelekan dan sebagainya.
1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Definisi tersebut menunjukkan arti sebagai informal.
2) Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan yang sikap yang sangat kita junjung tinggi. Ini adalah arti yang formal.
3) Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan.
4) Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep.
5) Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsung yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.
Dari beberapa definisi tadi bahwasanya semua jawaban yang ada difilsafat tadi hanyalah buah pemikiran dari ahli filsafat saja secara rasio. Banyak orang termenung pada suatu waktu. Kadang-kadang karena ada kejadian yang membingungkan dan kadang-kadang hanya karena ingin tahu, dan berfikir sungguh-sungguh tentang soal-soal yang pokok. Apakah kehidupan itu, dan mengapa aku berada disini? Mengapa ada sesuatu? Apakah kedudukan kehidupan dalam alam yang besar ini ? Apakah alam itu bersahabat atau bermusuhan ? apakah yang terjadi itu telah terjadi secara kebetulan ? atau karena mekanisme, atau karena ada rencana, ataukah ada maksud dan fikiran didalam benda .
Semua soal tadi adalah falsafi, usaha untuk mendapatkan jawaban atau pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran seperti idealisme, realisme, pragmatisme. Oleh karena itu filsafat dimulai oleh rasa heran, bertanya dan memikir tentang asumsi-asumsi kita yang fundamental (mendasar), maka kita perlukan untuk meneliti bagaimana filsafat itu menjawabnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat pendidikan Islam
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Selain itu terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta, suka (loving), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi, Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf.
Sementara itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau kebikasanaan sebagai sasaran utamanya. Filsafat juga memilki pengertian dari segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau pengertian dari segi praktis.
Selanjutnya bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim digunakan dalam praktek pendidikan. Dalam hubungan ini dijumpai berbagai rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si – terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Berdasarkan rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan, yaitu:
1. Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar.
2. Ada pendidik, pembimbing atau penolong.
3. Ada yang di didik atau si terdidik.
4. Adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut, dan.
5. Dalam usaha tentu ada alat-alat yang dipergunakan.
Sebagai suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan komperensif dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah.
Sebagai sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran. Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long life education ).
Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.
Dasar pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist Firman Allah : “ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar ( QS. Asy-Syura : 52 )”
Dan Hadis dari Nabi SAW : “ Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)”
Dari ayat dan hadis di atas tadi dapat diambil kesimpulan :
1. Bahwa al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah SWT.
2. Menurut Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.
3. Al Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam. Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini.
Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya. Corak pendidikan itu erat hubungannya dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit, dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik. Kalau teori pendidikan hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi utama tentang sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat memperoleh beberapa hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan, hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati-hati sebelumnya.
Sedangkan para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal. Tidak ada satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar.
Sebagai ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh muslim, maka sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan kemajuan.
Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia :
1. Menyadarkan secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam kehidupannya.
2. Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya.
3. Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya
4. Menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya
Setelah mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai sumber sekunder.
Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.
B. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam.
Penjelasan mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian tentang filsafat pendidikan Islam. Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajiannya atau cakupan pembahasannya.
Muzayyin Arifin menyatakan bahwa mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, ysng tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan.
Masalah- masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode dan lingkungan. (Muzayyin Arifin).
C. Manfaat Filsafat Pendidikan Islam.
1. untuk membantu para perancang pendidikan dan pelaksanaan pendidikan
2. Menjadi asas terbaik untuk penilaian pendidikan (menyeluruh)
3. Membantu dalam memberikan pendekatan pendidikan bagi fakta spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi dan politik
D. Tugas Filsafat Pendidikan Islam.
1. Memberikan landasan dan arahan terhadap proses pelaksanaan pendidikan yang berdasarkan Islam.
2. Melakukan kritik dan koreksi terhadap proses pelaksanaan pendidikan
3. Melakukan evaluasi terhadap metode yang digunakan dalam proses pendidikan.
E. Metode Pengembangan Filsafat Pendidikan Islam.
1. Bahan tertulis, Qur’an, Hadits, pendapat ulama, para filosof bahan pengalaman (Empirik) dalam praktek pendidikan.
2. Metode pencarian bahan tertulis, melalui perpustakaan, laporan khusus Qur’an dan hadits, digunakan jasa Ensliklopedi al-Qur’an, seperti:
Al- Mu’jam al-Mufaros lil affadz alQur’an al Karim (Muhammad Fuad abdullah albakhi) dan
Mu’jal Mufaros lil alfadz al hadits.
3. Metode pembahasan Muzayyin Arifin.
Mengajukan alternatif metode analisi dan sintesis yaitu:
• Metode yang berdasarkan rasional, logis, terhadap sasaran pendidikan secara induktif deduktif dan analisi ilmuwan.
• Induktif (cara berfikir yang menganalisa fakta khusus se;lanjutnya disimpulkan secara umum. Contoh: Thales yaitu menyimpulkan bahwa segala yang ada ini berasal dari air.
• Deduktif yaitu berfikir menggunakan premis-premis (minor dan mayor) dari kata yang umum menuju khusus.
• Pendekatan yang digunakan untuk membahas teori-teori keilmuan tertentu yang dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu.
• Pendekatan ini lebih merupakan pisau yang digunakan dalam analisa.
• Ia selalu menggunakan ilmu yang sebagai alat untuk menganalisa masalah-masalah yang dihadapinya.
F. Visi Pendidikan Islam.
• membangun sebuah kehidupan yang patuh dan tunduk kepada Allah.
• MISI:
a. Hak untuk hidup ( anNabs/ alHaya’)
b. Hak beragama (ad-Din)
c. Hak berfikir (al Aqli)
d. Hak memperoleh keturunan
e. Hak memperoleh harta benda
• Sifat pendidikan islam:
a. Terbuka (QS. Al Baqarah: 177)
b. Fleksibel (al Islam Shalihu Likuli Zaman Wa Makan)
c. Seimbang (tawazun al Baqarah :143)
d. Rabbani (nilai-nilai Qur’ani tidak hedoistik dan tidak sekularisme)
e. Demokratis
• Tujuan pendidikan Islam
a. tujuan umum (akhir)
b. tujuan akhir (penyebaran dari tujuan umum)
c. tujuan bidang pembinaan (tujuan dari bidang aspek akal)
d. tujuan setiap bidang studi
e. tujuan setiap pokok bahasan
f. tujuan setiap sub studi
• Ahmad D Marimba membagi 4 fungsi tujuan pendidikan:
a. Akhir usaha
b. Mengarahkan usaha / kegiatan
c. Pangkal tolak, starting poin, untuk capaian.
d. Mampu akomodasikan 3 fungsi agama:
Spiritual
Psikologi
Sosial
G. Perkembangan Pendidikan Islam Pada Abad Pertengahan
Kita dapat membedakan empat tahap pendidikan Islam pada masa perkembangan, yaitu:
Tahap Pertama, yaitu tahap pembentukan:
Tahap ini bermula sejak awal Islam hingga berakhirnya Daulah Umayyah. Tanda-tanda pendidikan Islam paling terkenal pada masa ini adalah:
1. Pendidikan Arab merupakan pendidikan murni Islam
2. Tujuan pendidikan adalah mendasari sendi-sendi agama baru
3. Berdasar pada ilmu-ilmu yang ditransfer dari warisan dan linguistik
4. Lebih memperhatikan kata-kata tertulis sebagai media untuk mengkaji
5. Menghilangkan beberapa bidang dalam belajar bahasa non Arab
6. Lebih menggunakan buku, masjid dan perpustakaan sebagai markas-markas pendidikan.
Tahap kedua: Tahap Masa Keemasan
Tahap ini bermula pada masa Abbasiyah hingga hancurnya Abbasiyah dan jatuhnya Baghdad. Ciri paling utama pendidikan Islam pada masa ini adalah:
1. Masuknya ilmu-ilmu filsafat
2. Dibangunnya berbagai sekolah
3. Muncul berbagai pendapat pendidikan yang berbeda-beda
Tahap Ketiga: Tahap kemunduran dan Kelemahan
Periode ini bermula sejak dimulainya kekuasaan Turki Utsmani hingga kemerdekaan Arab. Ciri utama pendidikan Islam pada periode ini adalah:
1. Terdapat kejumudan pemikiran Islam
2. Kembali kepada keterbatasan ilmu-ilmu yang bersumber dari menukil
3. Kejumudan lembaga-lembaga pendidikan
4. Dominasi kebudayaan Turki
5. Kebudayaan mengacu pada budaya minoritas bukan pada Islam
6. Masuknya pengaruh-pengaruh pendidikan Barat
Tahap Keempat: Tahap Pembaruan dan Penyusunan Kembali
Periode ini memuat beberapa tahap, berawal dari kemerdekaan negara-negara Arab dari pemerintahan Turki hingga masa modern. Ciri utama pendidikan pada masa ini adalah:
1. Mengambil sistem pendidikan barat
2. Menggunakan ilmu-ilmu rasional/filsafat dan modern
3. Maraknya budaya barat
4. Adanya upaya mengembangkan lembaga-lembaga pendidikan dari tradisional menjadi modern
BAB III
KESIMPULAN
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya.
Ruang lingkup FPI : Masalah- masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode dan lingkungan. (Muzayyin Arifin).
Manfaat Filsafat Pendidikan Islam.
1. untuk membantu para perancang pendidikan dan pelaksanaan pendidikan
2. Menjadi asas terbaik untuk penilaian pendidikan (menyeluruh)
3. Membantu dalam memberikan pendekatan pendidikan bagi fakta spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi dan politik
Tugas Filsafat Pendidikan Islam.
1. Memberikan landasan dan arahan terhadap proses pelaksanaan pendidikan yang berdasarkan Islam.
2. Melakukan kritik dan koreksi terhadap proses pelaksanaan pendidikan
3. Melakukan evaluasi terhadap metode yang digunakan dalam proses pendidikan.
Metode Pengembangan Filsafat Pendidikan Islam.
4. Bahan tertulis, Qur’an, Hadits, pendapat ulama, para filosof bahan pengalaman (Empirik) dalam praktek pendidikan.
5. Metode pencarian bahan tertulis, melalui perpustakaan, laporan khusus Qur’an dan hadits, digunakan jasa Ensliklopedi al-Qur’an, seperti:
Al- Mu’jam al-Mufaros lil affadz alQur’an al Karim (Muhammad Fuad abdullah albakhi) dan
Mu’jal Mufaros lil alfadz al hadits.
6. Metode pembahasan Muzayyin Arifin.
Mengajukan alternatif metode analisi dan sintesis yaitu:
• Metode yang berdasarkan rasional, logis, terhadap sasaran pendidikan secara induktif deduktif dan analisi ilmuwan.
• Induktif (cara berfikir yang menganalisa fakta khusus se;lanjutnya disimpulkan secara umum. Contoh: Thales yaitu menyimpulkan bahwa segala yang ada ini berasal dari air.
• Deduktif yaitu berfikir menggunakan premis-premis (minor dan mayor) dari kata yang umum menuju khusus.
• Pendekatan yang digunakan untuk membahas teori-teori keilmuan tertentu yang dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu.
• Pendekatan ini lebih merupakan pisau yang digunakan dalam analisa.
• Ia selalu menggunakan ilmu yang sebagai alat untuk menganalisa masalah-masalah yang dihadapinya.
Perkembangan Pendidikan Islam masa Abad Pertengahan
Tahap Pertama, yaitu tahap pembentukan:
Tahap ini bermula sejak awal Islam hingga berakhirnya Daulah Umayyah. Tanda-tanda pendidikan Islam paling terkenal pada masa ini adalah:
7. Pendidikan Arab merupakan pendidikan murni Islam
8. Tujuan pendidikan adalah mendasari sendi-sendi agama baru
9. Berdasar pada ilmu-ilmu yang ditransfer dari warisan dan linguistik
10. Lebih memperhatikan kata-kata tertulis sebagai media untuk mengkaji
11. Menghilangkan beberapa bidang dalam belajar bahasa non Arab
12. Lebih menggunakan buku, masjid dan perpustakaan sebagai markas-markas pendidikan.
Tahap kedua: Tahap Masa Keemasan
Tahap ini bermula pada masa Abbasiyah hingga hancurnya Abbasiyah dan jatuhnya Baghdad. Ciri paling utama pendidikan Islam pada masa ini adalah:
4. Masuknya ilmu-ilmu filsafat
5. Dibangunnya berbagai sekolah
6. Muncul berbagai pendapat pendidikan yang berbeda-beda
Tahap Ketiga: Tahap kemunduran dan Kelemahan
Periode ini bermula sejak dimulainya kekuasaan Turki Utsmani hingga kemerdekaan Arab. Ciri utama pendidikan Islam pada periode ini adalah:
7. Terdapat kejumudan pemikiran Islam
8. Kembali kepada keterbatasan ilmu-ilmu yang bersumber dari menukil
9. Kejumudan lembaga-lembaga pendidikan
10. Dominasi kebudayaan Turki
11. Kebudayaan mengacu pada budaya minoritas bukan pada Islam
12. Masuknya pengaruh-pengaruh pendidikan Barat
Tahap Keempat: Tahap Pembaruan dan Penyusunan Kembali
Periode ini memuat beberapa tahap, berawal dari kemerdekaan negara-negara Arab dari pemerintahan Turki hingga masa modern. Ciri utama pendidikan pada masa ini adalah:
5. Mengambil sistem pendidikan barat
6. Menggunakan ilmu-ilmu rasional/filsafat dan modern
7. Maraknya budaya barat
8. Adanya upaya mengembangkan lembaga-lembaga pendidikan dari tradisional menjadi modern